Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Akankah Inflasi Membuat Emas Bersinar di Tahun 2021?

Akankah Inflasi Membuat Emas Bersinar di Tahun 2021?

Inflasi akan menjadi salah satu risiko upside terhebat bagi emas tahun ini. Akankan itu akan mewujudkan dan membuat emas bersinar?

Laporan mengenai emas pada tahun 2021 akan menjadi tidak lengkap tanpa prospek bagi inflasi. Kami sudah menulis mengenai itu baru-baru ini, tapi topik ini patut diperiksa lebih lanjut. Bagaimanapun, inflasi yang lebih tinggi dipercayai menjadi salah satu akibat risiko  terbesar dalam beberapa bulan atau tahun mendatang, dan salah satu risiko upside terhebat bagi emas tahun ini.

Sebagian besar ekonom dan investor masih percaya bahwa inflasi sedang mati. Bagaimanapun, satu-satunya cara untuk membenarkan tindakan dovish bank sentral yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah alasan inflasi yang rendah. Dan satu-satunya cara untuk membenarkan pasar saham yang naik ditengah tingginya jumlah baru  orang Amerika di rumah sakit dengan COVID-19 adalah ekspektasi pemulihan ekonomi tanpa inflasi tahun ini. Dalam kata lain, banyak orang memprediksi kembalinya ekonomi Goldilocks setelah berakhirnya pandemi.

Baca juga: Pembaruan Emas: Emas Dicukur, Perak Berlapis

Di permukaan, itu tampaknya bahwa mereka mungkin benar. Kami tidak melihat inflasi berdigit ganda sejak akhir tahun 1981. Dan akhir tahun tarif tahunan CPI adalah diatas 3% pada bulan Januari 2021. Sebenarnya, pada 10 tahun terakhir, inflasi dibawah 2% target Fed hampir sepanjang waktu, seperti yang ditunjukkan grafik di bawah ini.

CPI, Tingkat Inflasi CPI Dasar

Bahkan, tingkat inflasi menurun secara signifikan selama epidemik AS dan Great Lockdown Ketika orang-orang berjauhan secara social dan membatasi pengeluarannya. Jadi, mengingat kekuatan goncangan permintaan negatif dan penurunan inflasi berikut, mengapa kita harus khawatir mengenai risiko inflasi yang lebih tinggi?

Jadi, haruskan itu menjadi jelas setelah mengalami pandemic, seperti, kejadian yang mustahil tapi berdampak? Bahkan probabilitas kecil dari lonjakan pada inflasi harus dikhawatirkan, terutama mengingat tumpukan hutang, dan dengan demikian, ruang terbatas bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga untuk mencegah inflasi.

Bahkan, kemungkinan peningkatan inflasi tidak begitu kecil. Seperti yang telah saya jelaskan beberapa kali, kasus untuk inflasi yang lebih tinggi lebih kuat hari ini daripada akibat Resesi Besar. Alasan pertama adalah bahwa jumlah uang yang beredar luas telah melonjak. Ini karena bank sejauh ini belum terkena (berbeda dengan krisis keuangan dimana bank sangat menderita), jadi mereka telah meminjam dengan bebas, seperti yang ditunjukkan grafik di bawah ini.

Pasokan Uang AS Dan Pertumbuhan Kredit Bank

Kedua, berbeda dengan krisis ekonomi dimana orang tidak membelanjakan uang karena mereka tidak memiliki pemasukan atau mereka memutuskan untuk membayar kembali hutang-hutang mereka, waktu ini, orang-orang tidak membelanjakan uang karena mereka terjebak dirumah. Tapi ketika krisis kesehatan berakhir dan orang-orang divaksinasi, beberapa konsumen mungkin pergi berbelanja. Realisasi permintaan yang tertahan mungkin membanjiri kapasitas perusahaan, menyebakan peningkatan harga. Sudah ada beberapa tanda kemacetan, atau pasokan menurun dibelakang permintaan, seperti peningkatan harga beberapa komoditas seperti bijih besi.

Dalam kata lain, ketika dunia kembali ke normal, sektor swasta akan mendapati dirinya dialiri dengan uang tunai. Dan saya bertaruh bahwa beberapa rumah tangga akan mencoba untuk menebusnya sepanjang waktu yang tidak dihabiskan di biskop, restoran dan hotel selama tahun kemarin.

Ketiga, mungkin juga terjadi beberapa pergeseran struktural dalam ekonomi global, yang akan membalikkan kekuatan disinflasi saat ini. Seperti Charles Goodhart dan  Manoj Pradhan yang menentang dalam buku mereka  The Great Demographic Reversal, era inflasi yang rendah, disebabkan oleh globalisasi, sekarang berakhir. Anda melihat, di tahun 1980an dan 1990an, China, India, dan negara pasca-komunis dari Eropa dan Asia Pusat, memasuki ekonomi global. Seperti sebuah konsekuensi, pasokan tenaga kerja global untuk produksi barang-barang yang diperdagangkan sangat naik, menyebabkan tekanan inflasi melemah. Tapi semua ini akan menjadi terbalik. Globalisasi sekarang melemah dan tidak ada negara besar yang mengantri untuk memasuki ekonomi global. Sebenarnya, penuaan di China dan negara-negara lainnya mengurangi pasokan tenaga kerja global, sehingga memperkuat tekanan inflasi.

Terakhir tapi bukan yang akhir, para politisi dan perbankan sentral menjadi lebih puas pada diri sendiri. Sikap politisi yang ceroboh dan tidak bertanggung jawab tidaklah mengherankan, terutama mengingat godaan untuk memperbesar hutang publik. Namun, bank sentral juga berhenti mengkhawatirkan dan mendekap bom inflasi. Sebagai contoh, Fed telah mengubah rezim moneternya di tahun 2020, mengumumkan bahwa Fed akan mentoleransi inflasi tanpa batas diatas target untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.

Baca juga: Proposal Stimulus Biden, Pendapatan Bank, Data AS Mengonfirmasi Pertumbuhan yang Lebih Lemah, Minyak, Emas/FX, Bitcoin

Garis bawah adalah inflasi itu harus kembali dalam beberapa bulan mendatang (lebih tepatnya, pada pertengahan kedua tahun ini, ketika distribusi vaksin akan tersebar luas. Kita tidak harus mengalami suku bunga berdigit ganda, tapi pasar tidak mengharapkan krisis deflasi juga. Seperti yang ditunjukkan grafik di bawah ini, ekspektasi inflasni telah Kembali ke level sebelum pandemic.

Ekspektasi Inflasi 5- dan 10 tahun

Semua ini adalah berita baik bagi harga emas. Kasus refleksi pada ekonomi global pasti lebih kuat daripada setelah krisis keuangan global tahun 2007- 2009. Risiko inflasi yang lebih tinggi saat ini harus support permintaan emas sebagai pelindung nilai terhadap inflasi. Dan peningkatan pada ekspektasi inflasi menurunkan tingkat suku bunga sesungguhnya, dengan demikian, berdampak secara positif pada logam kuning. Meskipun emas akan menghadapi beberapa headwinds penting tahun ini, ekspektasi inflasi kemungkinan menjadi melebihi peningkatan nominal obligasi yield, yang dapat menaruh tekanan downward pada suku bunga sesungguhnya dan support harga emas.

 

 

Sumber: investing.com

Mau tau berita terbaru Forex Indonesia? Gratis!

Info Artikel dan promosi Terbaru, akan di email ke Anda