Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Akankah Inflasi Yang Akan Datang Membawa Emas Bersamanya?

Akankah Inflasi Yang Akan Datang Membawa Emas Bersamanya?

Inflasi datang. Emas mungkin mendapat keuntungan darinya, terutama jika inflasi ternyata bertahan lebih lama dari perbankan sentral dan kepercayaan pasar.

Kuatkan dirimu, inflasi datang! Penting, tidak hanya penggerutu seperti diri saya yang berbicara tentang kenaikan harga saat ini, tetapi bahkan para pejabat Fed sendiri mengakui bahwa inflasi akan melonjak tahun ini. Memang, pada dot plot terbaru, Federal Open Market Committee (FOMC) berharap bahwa persentase perubahan tahunan PCE akan melonjak dari 1.3% pada Desember 2020 menjadi 2.4% di akhir tahun ini. Penting, proyeksi mereka meningkat secara signifikan dalam tiga bulan terakhir, ketika mereka berjumlah 1.8%.

Dan ingat, kita sedang berbicara disini mengenai angka inflasi resmi. Tekanan inflasi nyata, yang mana juga berdampak pada harga aset, yang jauh lebih kuat. Selanjutnya, pandemi mengubah komposisi konsumsi, karena orang-orang membeli lebih banyak barang dan lebih sedikit layanan, sehingga keranjang konsumsi banyak orang yang sebenarnya sudah menjadi lebih mahal daripada yang resmi, mengimplikasikan bahwa inflasi sesungguhnya lebih tinggi dari yang dilaporkan secara resmi, karena IMF mengakuinya baru-baru ini.

Apakah ini berarti bahwa para anggota FOMC tiba-tiba menjadi elang yang mengkhawatirkan moneter mengenai inflasi yang lebih tinggi? Tidak semuanya. Fed percaya bahwa inflasi akan bersifat sementara, disebabkan oleh efek dasar (pembacaan inflasi yang sangat rendah pada kuartal kedua tahun 2020) dan dengan pembukaan kembali ekonomi yang akan memicu pengeluaran konsumen yang lebih tinggi dan beberapa kenaikan pada harga.

Bank sentral AS mungkin benar. Setelah semua itu, akan ada beberapa kekuatan sementara di permainan. Selalu ada, tapi – oh, sungguh lucu! – fed selalu mengutip “efek sementara pada inflasi” saat inflasi meningkat, tapi bukan saat inflasi menurun. Namun, masalahnya adalah bahwa pasar tidak mempercayai bank sentral AS. Silahkan lihat grafik di bawah ini, yang menunjukkan ekspektasi selama lima dan 10 tahun berikutnya.

Ekspektasi inflasi

Baca juga: Kembang Api S&P 500 Dan Emas Semakin Kuat

Seperti yang anda bisa lihat, ekspektasi inflasi jangka menengah dan jangka panjang telah meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Itu berarti bahwa para investor tidak hanya mengharapkan kenaikan sementara pada inflasi – sebaliknya, mereka memprediksi lebih banyak kenaikan pada harga. Memang, Mr. Pasar percaya bahwa inflasi akan terjadi, secara signifikan di atas target Fed sebanyak 2%.

Tentu saja,  itu bisa menjadi kasus bahwa Mr. Pasar salah, dan Mr. Powell benar. Tetapi apa yang menganggu kepercayaan diri Fed – atau, lebih tepatnya terlalu percaya diri – bahwa hal itu dapat menahan inflasi jika itu ternyata lebih dari sekedar fenomena sementara. Seperti kesombongan yang memicu stagnansi di tahun 1970an. Emas bersinar di waktu itu.

Maka, seperti hari ini, bank sentral lebih berfokus pada pekerjaan maksimum daripada inflasi, mempercayai bahwa itu bisa selalu mengendalikan yang terakhir dengan menaikkan tingkat dana federal jika perlu. Tapi, seperti Robert J. Barro, dari Universitas Harvard, menunjukkan: “masalahnya adalah menaikkan suku bunga jangka pendek akan sedikit berdampak pada inflasi setelah ekspektasi inflasi jangka panjang yang tinggi telah mengakar.

Dan tindakan Fed baru-baru ini, termasuk kerangka kerja moneter baru, yang mana bank sentral AS mencoba untuk melampaui targetnya untuk beberapa waktu, dapat dengan mudah menyia-nyiakan modal reputasi yang telah dibuat oleh Paul Volcker dan mengurangi ekspektasi inflasi.

Dengan kata lain, kejutan negatif dapat diakomodasi oleh bank sentral tanpa efek yang bertahan lama, seperti pemahaman orang-orang bahwa ini adalah acara satu kali yang unik, setelah itu semuanya akan kembali menjadi normal. Tapi Fed jauh dari menormalisasi kebijakan moneternya. Sebaliknya, Fed baru-baru ini mengisyaratkan bahwa itu tidak akan mencapai suku bunga terlebih dahulu untuk mencegah inflasi, karena itu bisa menghambat pemulihan ekonomi. Risiko disini adalah bahwa jika orang-orang mulai melihat pengecualian sebagai hal normal baru, ekspektasi inflasi mereka bisa beralih, dan menjadi tidak tertahan.

Untuk menyimpulkan, itu mungkin menjadi kasus bahwa pasar melebih-lebihkan risiko inflasi jangka pendek. Tapi itu juga mungkin bahwa politikus dan perbankan sentral memperkecil bahaya inflasi jangka panjang seperti pendapat  Kenneth Rogoff, juga dari Universitas Harvard. Lagipula, tidak seperti pada akibat dari Resesi Hebat, ketika hanya basis moneter yang meroket, laju pertumbuhan dari pasokan uang juga melonjak saat ini – dan itu masih meningkat, seperti yang ditunjukkan grafik di bawah ini.

Tingkat Pertumbuhan Pasokan Uang Tahunan

Baca juga: Prakiraan Mingguan Emas: XAU/USD Menghilangkan Tekanan Bearish, Mengincar $1.745

Dengan kata lain, ketika semua membuat likuiditas setelah krisis keuangan global tahun 2007 – 2009 mengalir terutama ke dalam pasar keuangan, selama pandemi, itu mengalir ke dalam ekonomi nyata menjadi jauh lebih luas, yang mana bisa membuat lebih banyak tekanan inflasi.

Apalagi, kebijakan monter yang mudah sekarang disertai dengan kebijakan fiskal yang sangat longgar dan defisit fiskal yang besar yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang bisa mendorong lebih dalam ekonomi ke dalam jebakan hutang. Ini bisa merusak kebebasan bank sentral dan mencegah waktu normalisasi suku bunga, bukan untuk menyebutkan melemahnya  dampak downside globalisasi pada inflasi, sebagian disebabkan oleh faktor demografik dan perombakan supply chain. Terakhir tapi bukan yang terakhir, kenaikan harga komoditas dan biaya transportasi internasional, disertai dengan melemahnya dolar AS, mungkin menjadi pertanda mendekatnya monster inflasi.

Apa artinya semua itu bagi pasar emas? Baiklah, lonjakan inflasi tahun 2021 akan menjadi positif bagi logam mulia, yang bisa mendapatkan keuntungan sebagai lindung nilai inflasi. Tekanan downward pada suku bunga rill juga akan mendukung bagi harga emas, meskipun rally pada obligasi yield bisa menetralkan efek ini. Tapi jika Powell benar dan inflasi ternyata hanya sementara, maka emas mungkin akan terpuruk, dan kita bisa melihat ekonomi goldilocks lagi (yaitu pertumbuhan ekonomi dengan inflasi rendah). Namun, jika pasar benar, atau jika risiko inflasi jangka panjang terwujud, yang mana bahkan para investor bisa mengecilkan, emas akan bersinar.

 

 

Sumber: investing.com