Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Cara Melakukan Trading Dampak Politik Pada Pasar Keuangan Global

Cara Melakukan Trading Dampak Politik Pada Pasar Keuangan Global

CARA MELAKUKAN TRADING RISIKO GEOPOLITIK, YEN JEPANG, DOLAR AMERIKA, EURO, REAL BRAZIL, RUPEE INDIA, PEMILU 2016 – POIN PEMBICAAAN

  • Ekonomi global menunjukkan peningkatan kelemahan dan kerapuhan
  • Kekuatan ekonomi yang terkikis membuka pasar ke risiko geopolitik
  • Contoh ancaman politik di Asia, Amerika Latin, dan Eropa

MENGANALISA RISIKO GEOPOLITIK

Dengan terikikisnya latar belakang yang fundamental, pasar menjadi sangat sensitif dengan risiko politik karena kapasitas mereka untuk mendorong volatilitas pasar secara luas pun diperkuat. Ketika ideologi berorientasi liberal – yaitu, yang mendukung perdagangan bebas dan pasar modal yang terintegrasi – diserang dalam skala global oleh para pergerakan nasionalis dan populis, volatilitas yang didorong oleh ketidakpastian pun sering terjadi.

Yang membuat risiko politik itu sangat berbahaya dan sulit dipahami adalah keterbatasannya kemampuan yang investor punya untuk menentukan harga. Oleh karena itu, para trader menemukan diri mereka kepanasan berada di bawah lanskap politik global yang terus berkembang tanpa bisa diduga. Selanjutnya, seperti penyebaran coronavirus di tahun 2020, patogen politik memiliki efek penularan yang sama.

Secara umum, pasar tidak terlalu peduli dengan pengkategorisasian politik namun lebih memperhatikan kebijakan ekonomi yang tertulis pada agenda yang dipegang oleh siapapun yang berkuasa pada pemerintahaan yang berdaulat. Kebijakan yang mensimulasi pertumbuhan ekonomi biasanya berperan sebagai magnet untuk para investor yang mencari tempat untuk menaruh modal yang dimana akan menghasilkan hasil yang tinggi.

Ini juga meliputi rencana pengimplementasian stimulus fiskal, memperkuat hak milik, membiarkan barang dan modal mengalir dengan bebas dan membubarkan peraturan yang melemahkan pertumbuhan. Jika kebijakan ini menciptakan tekanan inflasi yang cukup, bank sentral mungkin mengingkatkan suku bunga sebagai responnya. Hal itu meningkatkan pengembalian yang mendasari aset lokal, menarik investor dan mengangkat mata uang.

Sebaliknya, pemerintah yang kecenderungan ideologisnya melawan gradient globalisasi yang dapat menyebabkan pelarian modal. Rezim yang mencoba untuk merusak benang yang telah menabur integrasi ekonomi dan politis biasanya menciptakan ketidakpastia yang tidak ingin dilewati oleh para investor. Tema ultra-nasionalisme, proteksionisme, dan populise sering kali membuktikan memilik efek yang mengganggu pasar.

Jika suatu negara mengalami penataan kembali pada ideologi, para trader akan menilai situasi untuk melihat apakah secara radkal mampu merubah peraturan risiko-imbalan mereka. Jika begitu, kemudian mereka dapat mengalokasi modal mereka dan merumuskan ulang strategi trading mereka untuk memiringkan keseimbangan risiko imbalan yang menguntungkan mereka. Volatilitas dipicu oleh hal itu namun karena perumusan ulang strategi trading tercermin dari redistribusi modal di seluruh pasar dalam berbagai aset.

Baca juga: Prakiraan Yen Jepang: Momentum yang Mendorong Lintasan JPY- Lebih Tinggi – dari Level EUR/JPY, GBP/JPY, USD/JPY

 

EROPA: POPULISME EUROSEPTIK DI ITALIA

Di Italia, Pemilu 2018 telah mengguncang pasar regional dan pada akhirnya mempengaruhi hampir seluruh sistem keuangan. Kemunculan sayap kanan anti-kemapanan Lega Nord dan Gerakan Bintang 5 yang ambivalen secara ideologis ditemukan pada sebuah kampanye populisme dnegan penolakan bawaan terhadap status quo. Ketidakpastian yang menyertai rezim baru ini kemudian segera diperhitungkan dan menghasilkan volatilitas yang signifikan.

Premi risiko yang memegang aset Italia meningkat dan tercerin dalam lonjakan lebih dari 100 persen dalam imbal hasil obligasi 10 tahun Italia. Itu menunjukkan para investor menuntut pengembalian yang lebih tinggi untuk menoleransi apa yang mereka anggap sebagai level risiko tertinggi. Ini juga tercermin dalam penyebaran yang dramatis dari credit defaut swap pada utang Italia di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa Itali dapat menjadi episentrum krisis utang Uni Eropa.

EUR/USD, EUR/CHF Turun Karena Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Mediterania Melonjak Di Tengah Kekhawairan Krisis Utang Zona Euro Lainnya

Dolar Amerika, Yen Jepang, Franc Swiss semua mengalami kenaikan dengan mengorbankan Euro karena para investor mengalihkan modalnya ke aset anti-risiko. Penderitaan Euro diperpanjang oleh perselisihan antara Roma dan Brussel tentang mantan ambisi anggaran. Pengecualian fiska pemerintah adalah ciri dari sifat anti-kemapanan mereka yang pada gilirannya menunjukkan ketidakpastian yang lebih besar dan kemudian tercermin pada Euro yang lebih lemah.

 

AMERIKA LATIN: NASIONALIS-POPULISME DI BRAZIL

Sementara Presiden Jair Bolsonaro umumnya digambarkan sebagai seseorang yang berapi-api yang didasari oleh nasionalis dengan populis, reaksi pasar atas kekuasannya disambut dengan tangan terbuka oleh para investor. Penunjukkannya sebagai Paulo Guedes – seorang ekonom lulusan Universitas Chicago dengan kecenderungan privatisasi dan peraturan restrukturasi – meningkatkan sentiment dan kepercayaan inverstor pada aset Brazil.

Indeks Ibovespa – Grafik Harian

Dari bulan Juni 2018 sampai dengan Covid-19 pasar global hancur di awal tahun 2020, indeks ekuitas acuan Ibovespa naik sampai lebih dari 58 persen dibandingkan dengan sedikit lebih dari 17 persen pada S&P 500 selama periode waktu. Selama pemilu di bulan Oktober, indeks Brazil naik lebih 12 persen hanya dalam satu bulan karena pol menunjukkan bahwa Bolsonaro akan menang atas lawan sayap kirinya yaitu Fernando Haddad.

Semenjak Bolsonaro naik ke kursi kepresidenan, naik dan turun dalam pasar Brazil telah mencerminkan tingkat kemanjua pada reformasi pensiunnya yang mengganggu pasar. Para investor berspekulasi jika inilah penyesuaian structural yang akan cukup kuat untuk menarik ekonomi Brazil dari jurang resesi dan menuju lintasan pertumbuhan yang kuat, tak terbebani oleh pengeluaran publik yang tidak berkelanjutan.

 

ASIA: NASIONALISME HINDU DI INDIA

Pemilu ulang Perdana Menteri Narendra Modi diterima luas oleh pasar, meskipun masih ada kekhawatiran tentang efek dari nasionalisme Hindu pada stabilitas regional. Bagaimanapun, Modi memiliki reputasi sebagai politikus yang ramah pada bisnis. Pemilihannya memikat para investor untuk mengalokasikan jumlah besar dari model mereka ke aset India.

Bagaimanapun, pandangan optimis para investor secara berkala dirusak oleh bentrokan berkala antara India dan tetangganya terkait sengketa wilayah. Pada awal tahun 2019, hubungan antara India-Pakistan memburuk secara drastic di tengah pertempuran di wilayah Kashmir yang tersengketa. Semenjak perpisahan di tahun 1947, permusuhan antara dua kekuatan nuklir telah menjadi risiko regional yang selalu ada.

Indeks Nifty 50 India, Futures S&P 500, AUD/JPY Turun Setelah Berita Pecahnya Skirmish India-Pakistan

Ketegangan antara India dan Cina, lebih jelasnya soal sengketa perbatasan yang dikenal sebagai Garis Kontrol Aktual (GKA) di Pegunungan Himalaya yang juga mengguncang pasar keuangan Asia. Di bulan Juni 2020, pemberitaan soal skirmish antara tentara Cina dan India menghasilkan lebih dari 20 kematian yang meningkatkan kekhawatiran tentang apa arti dari eskalasi yang lebih lanjut bagu keamanan regional dan stabilitas keuangan. Baca laporan selengkapnya di sini.

 

Indeks Nifty 50 India, Future S&P 500, Imbal Hasil Treasury AS 10-Tahun, USD/INR Setelah Berita Tentang Skirmish India-Cina

Kampanye dan pemerintah nasionalis memiliki risiko politik karena sifat alami rezim bergantung pada kekuatan yang ditunjukkan dan seringnya menyamakan kompromi dengan kapitulasi. Pada saat volatilitas politik dan kerapuhan ekonomi, dampak keuangan dari gangguan diplomatik diperkuat oleh fakta bahwa penyelesaian sengketa kemungkinan akan diperpanjang karena sifat rezim nasionalis yang pada dasarnya keras kepala.

Presiden AS Donald Trump dan Modi menggunakan retorika kuat yang serupa baik di jalur kampanye maupun di dalam pemerintahan masing-masing. Ironisnya, kemiripan ideologis mereka tersbut mungkin justru menjadi kekuatan yang menyebabkan keretakan hubungan diplomatik. Ketegangan antara keduanya telah meningkat pada tahun 2019, dengan pasar yang khawatir bahwa Washington dapat memulai perang perdagangan lain di Asia, membuka front kedua di India setelah melibatkan China.

 

BAGAIMANA FX BEREAKSI SEBAGAIMANA PEMERINTAH, BANK SENTRAL MERESPON TEKANAN GEOPOLITIK DAN EKONOMI

Untuk perekonomian dengan tingkat mobilitas modal yang tinggi, pada dasarnya ada 4 rangkaian alternatif bauran kebijakan yang berbeda yang mampu memicu reaksi di pasar Valas setelah guncangan ekonomi atau geopolitik:

  • Skenario 1: Kebijakan fiskal sudah ekspansif + kebijakan moneter menjadi lebih ketat (“pengetatan”) = Bullish untuk mata uang lokal
  • Skenario 2: Kebijakan fiskal sudah dibatasi + kebijakan moneter menjadi lebih ekspansif (“pengenduran) = Bearish untuk mata uang lokal
  • Skenario 3: Kebijakan moneter sudah ekspansif (“pengenduran”) + kebijakan fiskal menjad lebih dibatasi = Bearish untuk mata uang lokal
  • Skenario 4: Kebijakan moneter sudah dibatasi (“pengetatan”) + kebijakan fiskal menjadi lebih ekspansif = Bullish untuk mata uang lokal

Penting untuk diingat bahwa perekonomian seperti Amerika Serikat dan mata uang seperti Dolar AS, kapanpun kebijakan fiskal dan kebijakan moneter mulai trending di arah yang sama, sering kali ada dampak yang ambigu pada mata uang. Di bawah ini kami akan mengecek bagaimana perbaikan kebijakan fiskal dan moneter untuk guncangan geopolitik dan ekonomi yang memengaruhi pasar mata uang.

 

SKENARIO 1 – KEBIJAKAN FISKAL MENGENDUR; KEBIJAKAN MONETER MENJADI LEBIH KETAT

Pada bulan Mei 2019 – berdasarkan keputusan FOMC untuk memegang harga pada kisaran 2.25-2.50 persen – Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa tekanan inflasi yang relative lembut tercatat pada saat itu bersifat “sementara.” Implikasi di sini adalah meskipun harga tumbuh di bawah apa yang diharapkan oleh pejabat bank sentral, namun nantinya akan terakselerasi. Trade AS-Cina memainkan perannya dalam memperlambat aktivitas ekonomi dan meredam inflasi.

Kemudian pesan implisitnya adalah penurunan kemungkinan suku bunga yang berkurang dalam waktu dekat, mengingat bahwa prospek fundamental dinilai solid dan keseluruhan lintasan aktivitas ekonomi AS terlihat berada di jalur yang sehat. Nada netral yang dikeluarkan oleh Fed itu relatif kurang dovish dari apa yang telah diantisipasi pasar. Kemudian, ini mungkin menjelaskan mengapa kemungkinan harga-dalam dari penurunan suku bunga Fed pada akhir tahun (seperti yang terlihat dalam pertukaran indeks semalam) turun dari 67.2 persen menjadi 50.9 persen setelah komentar Powell.

Sementara itu, Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan adanya peningkatan defisit fiskal dalam jangka waktu tiga tahun, tumpang tindih dengan siklus pengetatan bank sentral. Terlebih lagi, ini terjadi dengan latar belakang spekulasi tentang rencana stimulus fiskal bipartisan. Pada akhir bulan April, pembuat kebijakan utama mengumumkan rencana untuk program pembangunan infrastruktur senilai $2 triliun Dolar Amerika.

Kombinasi kebijakan fiskal ekspansif dan pengetatan moneter membuat alasan untuk pandangan bullish Dolar Amerika. Paket fiskal ini diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan inflasi, sehingga mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga. Di saat itu terjadi, Greenback bertambah 6.2 persen terhadap rata-rata mata uang utama selama empat bulan berikutnya.

Skenario 1: DXY, Imbal Hasil Obligasi 10-Tahun Meningkat, Future S&P 500 Jatuh

 

SKENARIO 2 – KEBIJAKAN FISKAL MENGETAT; KEBIJAKAN MONETER MENJADI LEBIH KENDUR

Krisis keuangan global pada tahun 2008 dan Resesi Hebat yang mengikutinya melanda seluruh dunia dan membuat ekonomi Mediterania tidak stabil. Ini memicu kekhawatiran tentang krisis utang negara di seluruh kawasan karena imbal hasil obligasi di Italia, Spanyol dan Yunani naik ke tingkat yang mengkhawatirkan. Langkah-langkah penghematan yang diamanatkan diberlakukan dalam beberapa kasus yang membantu menciptakan dasar bagi populisme Euroseptik yang karenanya menghantui wilayah tersebut.

Para investor mulai kehilangan kepercayaan pada kemampuan pemerintah ini untuk membayar hutang mereka dan menuntut hasil yang lebih tinggi karena menimbulkan risiko gagal bayar yang meningkat. Euro menderita di tengah kekacauan karena keraguan muncul tentang keberadaannya jika krisis memaksa kepergian negara anggota yang belum pernah terjadi sebelumnya dari zona euro.

Dalam apa yang dianggap sebagai salah satu momen paling terkenal dalam sejarah keuangan, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi menyampaikan pidatonya di London pada 26 Juli 2012 yang akan dilihat oleh banyak orang sebagai momen penting yang menyelamatkan mata uang tunggal. Dia mengatakan bahwa ECB “siap untuk melakukan apapun untuk menjaga Euro. Dan percayalah,” tambahnya, “itu sudah cukup.” Pidato ini menenangkan pasar obligasi Eropa dan membantu menurunkan imbal hasil.

ECB juga menciptakan program pembelian obligasi yang disebut OMT (untuk “Transaksi Moneter Langsung”). Ini bertujuan dalam mengurangi tekanan dalam pasar utang negara, menawarkan bantuan kepada pemerintah zona Euro yang sedang tertekan. Meskipun OMT tidak pernah digunakan, ketersediannya hanya membantu menenangkan para investor yang sedang gelisah. Pada saat yang bersamaan, banyak area negara Euro yang bermasalah mengadopsi langkah-langkah penghematan untuk menstabilkan keuangan pemerintah.

Sementara Euro yang awalnya naik karena kekhawatiran tentang keruntuhannya mereda, mata uang tersebut akan terdepresiasi secara substansial terhadap Dolar Amerika selama tiga tahun berikutnya. Pada bulan Maret 2015, ia telah kehilangan lebih dari 13 persen nilainya. Ketika memeriksa pengaturan moneter dan fiskal, menjadi sangat jelas mengapa.

Skenario 2: Euro Bernapas Lega – Imbal Hasil Obligasi Jatuh Karena Ketakutan Kebangkrutan Dihilangkan

langkah-langkah penghematan di banyak negara zona Euro ini membatas kemampuan pemerinta untuk memberikan stimulus fiskal yang mungkin telah membantu menciptakan lapangan pekerjaan untuk mendorong inflasi. Pada saat yang bersamaan, bank sentral mempermudah kebijakan sebagai cara untuk mengatasi krisis. Akibatnya, kombinasi ini menekan Euro lebih rendah terhadap sebagian besar mata uang utama lain.

Skenario 2: Euro, Imbal Hasil Obligasi Negara Jatuh

 

SKENARIO 3 – KEBIJAKAN MONETER MENGENDUR; KEBIJAKAN FISKAL MENJADI LEBIH KETAT

Di awal tahap dari Resesi Hebat, Bank Kanada (BOC) memotong suku bunga acuan dari 1.50 menjadi 0.25 persen sebagai cara untuk meringankan kondisi kredit, memulihkan kepercayaan dan menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, imbal hasil obligasi pemerintah Kanada bertenor 10 tahun mulai naik. Rally ini terjadi tepat pada waktu yang sama ketika indeks saham TSX patokan Kanada membentuk titik terendah.

Skenario 3: USD/CAD, TSX, Imbal Hasil Obligasi 2 Tahun Kanada

Pemulihan kepercayaan dan pemulihan harga saham yang terjadi kemudian tercermin pada pergeseran preferensi investor untuk investasi berisiko dan pengembalian lebih tinggi (seperti saham) sebagai pengganti alternatif yang relatif lebih aman (seperti obligasi). Realokasi modal ini mengirim imbal hasil lebih tinggi meskipun bank sentral melakukan pelonggaran moneter. Dewan Komisaris kemudian mulai menaikkan suku bunga kebijakannya lagi dan menaikkannya menjadi 1 persen, di mana tetap untuk 5 tahun berikutnya.

Selama ini, Perdana Menteri Stephen Harper menerapkan langkah-langkah penghematan untuk menstabilkan keuangan pemerintah di tengah krisis keuangan global. Bank sentral kemudian berbalik arah dan menurunkan suku bunga kembali menjadi 0.50 persen pada Juli 2015.

Baik CAD maupun imbal hasil obligasi lokal menderita karena kebijakan moneter dilonggarkan sementara kapasitas dukungan kebijakan fiskal dibatasi. Kebetulan, mengurangi pengeluaran pemerintah pada masa sulit ini akhirnya membuat Harper kehilangan pekerjaannya. Justin Trudeau menggantikannya sebagai Perdana Menteri setelah menang dalam pemilihan umum 2015.

Skenario 3: USD / CAD, Imbal Hasil Obligasi 2 Tahun Kanada

 

SKENARIO 4 – KEBIJAKAN MONETER MENGETAT; KEBIJAKAN FISKAL MENJADI LEBIH KENDUR

Setelah Donald Trump menyatakan kemenangan pada Pemilu 2016, lanskap politik dan latar belakang ekonomi menyukai pandangan bullish untuk Dolar Amerika. Dengan Oval Office dan kedua majelis kongres dikontrol oleh Partai Republik, pasar nampaknya menyimpulkan bahwa ruang lingkup volatilitas politik sudah berkurang.

Ini membuat langkah-langkah fiskal yang ramah pasar yang diusulkan oleh kandidat Trump selama pemilihan tampak lebih mungkin untuk diterapkan. Ini termasuk pemotongan pajak, deregulasi dan pembangunan infrastruktur. Investor tampaknya mengabaikan ancaman untuk melancarkan perang perdagangan terhadap mitra dagang utama seperti China dan Zona Euro, setidaknya untuk saat ini. Di sisi moneter, pejabat bank sentral menaikkan suku bunga di akhir tahun 2016 dan ingin menaikkan lagi setidaknya 75 basis poin hingga 2017.

Dengan cakupan ekspansi fiskal dan pengetatan moneter yang terlihat, Dolar AS menguat seiring imbal hasil obligasi dan ekuitas lokal. Ini terjadi karena keinginan pendapatan perusahaan menguat di samping prospek kinerja ekonomi yang lebih luas. Hal ini memicu taruhan pada inflasi yang lebih kuat dan dengan demikian pada respons Hawkish dari bank sentral.

Skenario 4) Indeks Dolar AS (DXY), S&P 500 Futures, Imbal Hasil Obligasi 10 Tahun (Grafik 7)

Baca juga: Bell Pembukaan: Futures AS, Saham Eropa Sedang Berjuang; Volatilitas, Kenaikan Minyak

 

MENGAPA RISIKO POLITIK PENTING UNTUK TRADING

Banyak penelitian telah menunjukkan penolakan yang signifikan dalam standar hidup akibat perang atau resesi yang parah yang meningkatkan kecenderungan pemilih untuk mengambil posisi radikal dalam spektrum politik. Dengan begitu, orang lebih cenderung menyimpang dari kebijakan yang ramah pasar – seperti integrasi modal dan liberasasi perdagangan – daripada fokus pada langkah-langkah yang berpaling dari globalisasi dan menghadapi kerugian.

Ekonomi global modern saling berhubungan baik secara politik dan ekonomi dan maka dari itu guncangan sistematis apapun memiliki kemungkinan tinggi untuk bergema ke dunia. Selama masa volatilitas politik yang signifikan di tengah perubahan ideologi antar benua, perkembangan ini penting untuk diperhatikan karena di dalamnya terdapat peluang untuk mengatur strategi perdagangan jangka pendek, menengah, dan panjang.

 

 

Sumber: dailyfx.com

Mau tau berita terbaru Forex Indonesia? Gratis!

Info Artikel dan promosi Terbaru, akan di email ke Anda