Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Balistik Breakout

Balistik Breakout
Dari tiga kondisi utama pasar yang dapat menjadi fokus trader, kondisi yang paling sulit dipelajari yaitu seringnya breakout. Breakout trading mencakup upaya memasuki trade dengan penembusan terhadap level support dan resistance. Jika level resistance berhasil ditembus, maka trader breakout akan menempati posisi beli. Jika level support yang berhasil ditembus, maka trader akan menempati posisi jual. Gambar berikut ini akan menggambarkan pengaturan ini secara langsung pada grafik:
Gambarannya adalah support/resistance dapat berfungsi sebagai penghalang terhadap pergerakan harga di masa depan. Ketika level-level ini berhasil ditembus, penghalang tersebut dianggap sudah tidak ada lagi, dan trader akan mengambil harga yang lebih tinggi dengan long trade atau harga yang lebih rendah dengan short trade. Sayangnya, mempelajari breakout trade mungkin tidak sesederhana itu. Alasannya yaitu volatilitas yang membuat breakout menjadi menarik sekaligus berbahaya. Pada artikel ini, kita akan membahas topic mengenai breakout, dan mungkin yang lebih penting – bagaimana trader dapat menyesuakian pendekatannya untuk trading dalam kondisi menarik sekaligus berpotensi berbahaya ini. Baca juga: Belajar Forex: Cara Berburu Breakout MENCARI VOLATILITAS Ketika merencanakan volatilitas trading, hal ini juga bisa sangat membantu menggambarkan lingkungan di mana kita akan memasukinya. Breakout berasal dari range. Range seringkali akan terisi ketika ketika trader tidak yakin terhadap arah harga di masa depan. Contoh yang tepat untuk fenomena ini yaitu perilisan berita utama atau pengumungan data ekonomi, ketika biasanya trader FX dapat menyaksikan harga range-bound yang akan dirilis. Kami melihat topik ini pada artikel Attacking News Events with Price Action (Menyerang Berita Peristiwa dengan Price Action), di mana kami akan membahas secara mendalam hal di balik strategi berita trading yang dibuat pada premis ini. Gambar di bawah ini diambil langsung dari artikel tersebut dan akan menunjukkan bagaimana strategi tersebut dapat diterapkan terhadap laporan Non-Farm Payroll bulan Maret tahun ini.
Seperti yang bisa kita lihat pada grafik di atas, support ditembus ketika berita tersebut mulai beredar di lingkungan. Perilisan berita tersebut membawa volatilitas lain pada pasar, dan hal ini menyebabkan penembusan support yang keuntungannya dicari trader breakout. Breakout seringkali dipicu oleh pengingkatan volatilitas yang membentuk penembusan level support dan/atau resistance. Namun, seperti yang telah kami katakan sebelumnya, hal ini dapat berbahaya – itulah mengapa breakout seringkali membutuhkan parameter manajemen risiko kuat yang efektif selama jangka panjang. MENGELOLA VOLATILITAS Kami telah menyebutkan sebelumnya bahwa volatilitas dapat berbahaya, dan alasan bahayanya yaitu karena kita tidak pernah tahu seberapa jauh atau seberapa lama pergerakan harga dapat berlanjut. Dalam beberapa kasus, support atau resistance dapat ditembus hanya untuk melihat pergerakan harga melawan kita – langsung ke stop kita. Hal ini membawa pada konsep ‘false breakout’, di mana level utamanya ditembus tanpa harga yang terus bergerak pada arah tersebut. Gambar di bawah ini akan menggambarkan false breakout:
False breakout bisa sering terjadi, dan karena tahu bahwa kebanyakan breakout akan muncul pada periode yang bergejolak di pasar (ketika harga dapat bergerak atau melawan kita dalam jangka waktu yang panjang), trader breakout akan mengacu pada manajemen risiko dalam upaya mencegah kerusakan yang dibawa oleh false breakout. Di sinilah order stop-loss dan manajemen risiko dapat membantu. Baca juga: Breakout Trading dengan Fibonacci Retracement MANAJEMEN RISIKO BREAKOUT Seperti yang telah disebut di grafik atas, false breakout merupakan musuh bebuyutan trader breakout. Hal ini karena false breakout dapat bergerak melawan posisi trader untuk jangka waktu yang lama, yang berpotensi menghilangkan keuntungan banyak trader sukses. Karena volatilitas breakout trading yang meningkat, kebutuhan terhadap manajemen risiko yang tepat adalah yang paling penting. Trader menggunakan manajemen risiko yang buruk untuk menghadapi risiko kerugian yang sangat besar dan nyata dalam jumlah yang lebih banyak dibanding yang diantisipasi mereka ketika melakukan trading kondisi pasar yang bergejolak ini. Dalam seri penelitian kami mengenai DailyFX Ciri Trader Sukses, topic manajemen risiko berada di bagian awal diskusi. Bukan kebetulan, banyak yang menganggap topik ini merupakan hal yang dapat membedakan trader profesional dengan trader amatir. Trader breakout dapat membentuk prinsip-prinsip ini dalam upaya membentuk manajemen risiko yang kuat pada strategi breakout mereka. Dalam ‘Kesalahan Nomor Satu yang Dibuat Trader Forex’, Ahli Strategi Kuantitatif, David Rodriguez, berbicara mengenai pentingnya rasio risk-reward. Kesimpulan pada artikel tersebut sebagai berikut: Trader benar lebih dari 50%dari waktu ke waktu, tetapi lebih banyak kehilangan uang karena kekalahan trade dari pada kemenangannya karena kemenangan trade. Trader harus menggunakan stop dan limit untuk menerapkan rasio risk/reward 1:1 atau lebih tinggi. Ketika trading breakout, trader harus memperkirakan kemungkinan false breakout untuk menurnkan persentase kemenangan secara menyeluruh dibanding strategi lainnya. Namun, dalam beberapa kasus di mana para trader tersebut menang, trade yang menang itu dapat bergerak untuk jangka waktu yang lama. Sama halnya ketika trading breakout, trader mungkin ingin menggunakan rasio risk/reward yang lebih agresif, seperti 1 banding 2 atau lebih besar lagi (untuk setiap $1 yang dipertaruhkan, $2 dicari sebagai imbalan). Gambar di bawah akan menerangkan rasio risk reward 1 banding 2.
dengan rasio risk reward 1 banding 2, trader hanya perlu untung 40% dari waktu ke waktuuntuk mendapatkan laba bersih. Kami membahas ini panjang lebar dalam artikel ‘Bagaimana Cara Membangun Strategi Part 5: Manajemen Risiko’.
Risk reward 1 banding 1 1 banding 2
Total trade 10 10
Total menang 4 4
Target untung 100 pips 200 pips
Stop loss 100 pips 100 pips
Pips menang 400 pips 800 pips
Pips kalah 600 pips 400 pips
Keuntungan bersih -200 pips 200 pips
Topik mengenai breakout dibahas lagi dalam bagian ketiga series Ciri Trader Sukses, dalam artikel ‘Inilah Bagaimana Cara Trade Mata Uang Utama Seperti Euro Selama Jam-Jam Aktif’. Dalam artikel ini, volatilitas menjadi topik diskusi, karena David Rodriguez menginvestigasi profitabilitas trader berdasarkan waktu. Grafik di bawah akan menunjukkan ‘pergerakan rata-rata per jam’ atau rata-rata jumlah volatilitas EURUSD berdasarkan waktu.
Dari grafik di bawah, kita dapat melihat sesi Asia yang mengacu pada sesi London (pukul 3 Pagi ET – ditunjukkan pada sumbu horizontal), karena pergerakan rata-rata per jam untuk peningkatan EURUSD, menyoroti volatilitas yang meningkat. Dengan demikian, trader sering diperlakukan baik untuk memfokuskan strategi breakout mereka ke perode ini, karena volatilitas dapat meningkat ketika sesi London online. Di bagian keempat dari seri ini, Berapa Banyak Modal yang Harus Saya Trade pada Forex, Jeremy Wagner melihat jumlah rata-rata yang digunakan oleh trader. Grafik do bawah akan menggambarkan profitabilitas trader (batang warna biru) berdasarkan jumlah ekuitas, dan rata-rata leverage efektif yang digunakan oleh trader:
Dalam penelitiannya, Jeremny menemukan bahwa trader dengan saldo akun yang lebih besar (grup $9.999 pada grafik di atas), menggunakan leverage yang jauh lebih sedikit dibanding trader dengan saldo akun yang lebih sedikit (grup $9.999 di atas). Trader menggunakan level leberage yang lebih moderat (5 banding 1) yang profitabilitasnya terlihat jauh lebih besar (37,37% dari waktu) dibanding trader yang menggunakan saldo akun yang lebih sedikit (20,91% dari waktu). RINGKASAN MANAJEMEN RISIKO Pendeknya, trader harus menentukan manajemen risiko melalui beberapa kesepakatan ketika melakukan trading breakout. Trader harus melakukan trade dengan rasio risk reward yang menguntungkan (di mana trader mencari lebih banyak keuntungan, dibanding mengambil risiko), sambil fokus terhadap trading mereka pada periode yang bergejolak, dan trader harus menggunakan leverage kurang lebih 10 banding 2 pada trade breakout. Sumber: dailyfx.com

Broker News

Mau tau berita terbaru Forex Indonesia? Gratis!

Info Artikel dan promosi Terbaru, akan di email ke Anda