Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Italia Putus Asa Mencari Jalan Keluar Ekonomi Buntu

Italia Putus Asa Mencari Jalan Keluar Ekonomi Buntu
Italia Putus Asa Mencari Jalan Keluar Ekonomi Buntu

Italia Putus Asa Mencari Jalan Keluar Ekonomi Buntu akibat Lockdown. “Situasinya tidak berkelanjutan,” keluh Giovani Savorani yang menjalankan perusahaan keramik Gigacer SpA di wilayah terdampak virus, Emilia Romagna, Italia utara.

Savorani, kepala asosiasi industru Confindustria Ceramica hanyalah salah satu suara yang menekan Perdana Menteri Giuseppe Conte untuk mencari jalan keluar dari ekonomi buntu akibat lockdown. Jutaan perusahaan dan karyawannya terpengaruh, serta banyak bisnis yang takut bangkrut.

Baca Juga : Inilah yang Terjadi Ketika Pasar Saham Tutup karena COVID-19!

Negara besar pertama Eropa yang dihantam oleh epidemi virus korona, Italia sekarang berada di barisan depan dalam merancang strategi keluar dari pembekuan aktifitas ke ekonomi besar. Eksperimen tersebut selaras dengan ancaman dalamnya kerusakan finansial terhadap bahaya akan gelombang kedua virus serta korban jiwa yang akan ditaruhkan.

Sebuah keputusan oleh pemerintahan Conte sudah dekat karena kurva kasus virus baru mulai mereda setelah lebih dari empat minggu menghentikan hampir semua kegiatan bisnis dan lebih dari 16.000 nyawa melayang. Kehancuran ekonomi jelas terlihat di negara yang keuangannya dipenuhi oleh utang tinggi dan pertumbuhan rendah bahkan sebelum krisis ini.

“Masalah nyata Italia adalah bahwa ia sudah berada dalam posisi lemah karena tingginya utang publik,” kata Nicola Nobile, seorang ekonom di Oxford Economics. “Negara dengan masalah struktural seperti Italia ini tidak mampu untuk menunggu lebih lama lagi.

Bloomberg Economics memperkirakan kontraksi lebih dari 6% pada kuartal pertama dan Unicredit (MI:CRDI) melihat PDB turun 15% tahun ini.

Sementara para ahli medis bersikeras masih terlalu dini untuk mengatakan kapan pembatasan dapat dicabut, perusahaan sudah mengincar paruh kedua April sebagai titik balik akibat lockdown. Carmaker Fiat Chrysler adalah salah satu perusahaan besar negara tersebut yang menuliskan akan kembali memulai produksi pada 14 April.

Tetapi hanya area tertentu seperti sektor pertanian dan kesehatan yang diizinkan buka pada tanggal tersebut, menurut seorang pejabat. Setelahnya akan ada “fase 2” dimana perusahaan dan bisnis secara bertahap dapat memulai kembali aktifitasnya pada 4 Mei, kata sumber dari pemerintah.

Savorani yang asosiasinya mencakup 170 anggota dan kurang lebih 40.000 karyawan mengatakan bahwa jadwal seperti itu tidak cukup baik. Industrinya berisiko untuk kehilangan pangsa pasar secara permanen bagi pesaing asing yang produksinya siap beroperasi, katanya.

Lebih dari setengah dari 4,3 juta bisnis di Italia telah ditutup, menurut asosiasi pemberi kerja Confindustria memperkirakan bahwa hampir 9 juta pekerja terkena dampaknya.

Penjualan ritel bahan bakar turun 85% menurut serikat SPBU, sementara pariwisata berhenti total dengan semua hotel tutup menurut asosiasi pemilik hotel Federalberghi.

“Beberapa perusahaan mungkin tidak akan pernah buka kembali,” kata Licia Mattioli, wakil presiden Confindustria dalam sebuah wawancara. “Kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”

Mattioli yang mengepalai perusahaan perhiasan milik keluarga dengan nama yang sama di Turin mengamati bahwa kapasitas produktif italia adalah 50%, sementara negara lain jauh di atas itu.

“Sekali anda kehilangan pelanggan karena mereka memasok sendiri dari tempat lain, akan susah mengembalikan mereka ke jaringan,” katanya. ” “Di area lain seperti fashion, dimana anda membuat sale untuk akhir musim, sepatu, tas, dan pakaian anda akan kadaluwarsa seperti mozarela.

Negara-negara Eropa yang lebih kecil seperti Denmark dan Austria telah mengumumkan rencana untuk kembali beraktifitas normal dalam beberapa bulan mendatang, memacu bisnis Italia mendorong lebih keras lagi untuk pembukaan bertahap.

Conte memiliki perhitungan rumit. Pihak berwenang takut bahwa takut relaksasi dini dapat memicu gelombang penularan lain. Italia telah dibanjiri oleh keputusan-keputusan yang memprioritaskan bisnis dibandingkan kesehatan pada awal krisis ketika produksi diisinkan berlanjut sampai angka kematian melonjak tak terkendali.

Kemudian ketika output kembali baru, ada masalah mengatur kembali distribusi dan rantai pasokan untuk mematuhi aturan baru yang diperkenalkan untuk memastikan keamanan. Hal ini termasuk menyediakan alat pelindung dan memastikan social distancing selama semua fase hari kerja, termasuk di kantin dan ruang ganti tetap dilaksanakan.

Persyaratan seperti itu mungkin sulit untuk diterapkan bagi banyak perusahaan kecil. Sementara serikat pekerja mengancam pemogokan jika ekonomi dimulai kembali terlalu cepat dan pengusaha juga mengambil risiko gugatan mahal jika staf jatuh sakit di tempat kerja.

Baca Juga : Saham Dunia Bersiap untuk Minggu Terburuk

Bahkan ketika semua rintangan dihilangkan dengan asumsi wabah tidak kembali, Italia tetap akan menghadapi perjuangan besar untuk memperbaiki ekonominya.

“Masalah sebenarnya adalah pemulihan,” kata Gianluigi Torzi, Ketua perusahaan manajemen aset JCI Capital. “Kami tidak akan melihat jenis pemulihan pasca perang seperti biasanya setelah semua ini berakhir. Pemulihan pasca perang biasanya bahagia, produktif. Pemulihan yang satu ini akan berakhir menyedihkan.”

Sumber : investing.com

Mau tau berita terbaru Forex Indonesia? Gratis!

Info Artikel dan promosi Terbaru, akan di email ke Anda